Tampilkan postingan dengan label Temanggung. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Temanggung. Tampilkan semua postingan

Pertapaan Rawaseneng Temanggung

Pertapaan Rawaseneng

Pertapaan Rawaseneng yang terletak 14 km sebelah utara Temanggung ini, merupakan bentuk hidup kerahiban yang menjadi salah satu kekayaan Gereja Katolik, khususnya Keuskupan Agung Semarang. Para rahib di sini adalah anggota Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO) atau sering disebut Ordo Trappist. Ordo ini menjalani kehidupan monastik (kerahiban) menurut Peraturan St Benediktus. Cikal bakal ordo dimulai dari desa kecil Citeaux, di Perancis, pada akhir abad ke-11.

Pertapaan Rawaseneng sendiri berdiri pada tanggal 1 April 1953. Rahib awali berasal dari komunitas OCSO Koningshoeven, Tilburg, Nederland. Ada empat rahib pionir (3 imam dan 1 bruder) yang memulai pertapaan ini.

Kini ada 34 rahib menghuni di sini, tujuh di antaranya adalah rahib imam. Pemimpin pertapaan ini disebut Abbas (Latin) artinya ‘bapak’ atau sering disebut Romo Abbas. Saat ini Romo Abbas dipangku oleh Aloysius  Gonzaga Rudiyat OCSO.

Hidup harian para rahib dilakoni dengan doa dan karya; ora et labora. Rutinitas pertapaan dimulai pukul 03.15 dini hari dengan bangun pagi. Tepat pukul 03.30 lonceng gereja berdentang pertanda Ibadat Bacaan dimulai. Selanjutnya meditasi, lectio divina, ibadat pagi, dan perayaan ekaristi, hingga pukul tujuh pagi.


Ada jeda satu jam untuk sarapan dan keperluan pribadi. Pukul delapan kumpul kembali di kapel untuk ibadat siang I. Antara pukul 08.30-11.30 merupakan saat untuk labora atau kerja. Ada yang di kebun, peternakan, kamar tamu, toko rohani, dapur, dll. masing-masing sesuai dengan tugasnya.

Tengah hari, pukul 12, kekasih-kekasih Kristus ini mengidungkan kembali pujian kepada Allah dalam ibadat siang II. Menyusul kemudian makan siang dan istirahat. Namun, pukul 14.30 suara rahib ini sudah menggema lagi sampai ke langit-langit rawaseneng, dalam ibadat sore. Ada waktu satu setengah jam ke depan untuk bekerja dan keperluan pribadi hingga pukul 16.30.

Lectio Divina atau bacaan rohani satu jam dan meditasi setengah jam dilakukan para rahib sampai saat makan malam pukul 18.20. Setelah itu bersama menutup aktivitas harian ini dengan ibadat penutup pada pukul 19.45. Selanjutnya, waktu pribadi dan beristirahat.

Semua aktivitas dilakukan dalam keheningan atau silensium. Tanpa kata, supaya hati tetap terarah kepada Sang Pencipta.

Jubah para rahib ini begitu khas. Jubah dasar berwarna putih. Di sebelah depan dan belakang dikenakan kain berwarna hitam yang melintang di bahu, mirip kasula, yang disebut Skapulir. Skapulir ini lambang perlindungan Bunda Maria, dan menjadi ciri busana kerahiban. Skapulir berasal dari kata Latin ‘Scapula’, yang artinya ‘bahu’. Di bagian leher skapulir terdapat kain tutup kepala yang digunakan saat meditasi.

Produksi

Para rahib Rawaseneng memiliki beberapa karya yang khas, yaitu peternakan sapi, perkebunan susu, dan pengolahan keju. Saat ini setidaknya ada 150 ekor sapi yang dimiliki, 70 diantaranya untuk produksi susu. Sapi-sapi ini berasal dari Belanda dan Australia. Ada sekitar 700 liter susu dihasilkan dari peternakan ini. Pemerasan susu dilakukan pada pagi dan sore hari. Sebagian produksi susu dikirim ke para pelanggan, seperti rumah sakit, biara, atau keluarga-keluarga.

Masing-masing memiliki nama, ada yang Lidia, Elisabet, Fransiska, dll. Pemberian nama ini dilakukan untuk mengetahui silsilah keturunannya. Supaya tidak terjadi kawin campur sedarah atau seketurunan; hal ini untuk menghindari kualitas sapi yang dihasilkan.

Sebagian lagi diproduksi untuk pengolahan keju. Keju Rawaseneng terkenal berkualitas. Kualitasnya ditentukan oleh waktu pengolahan yang cukup panjang, yaitu sekitar 3-4 bulan. Keju ini menjadi bahan olahan campuran roti-roti rawaseneng, seperti kastengel.

Dari 178 hektar luas pertapaan, 100 hektar diantaranya untuk lahan perkebunan. Lahan ini untuk tanaman kopi, cengkeh, dan palawija lainnya. Lahan sisanya untuk hutan lindung.

Kunjungan

Saat Salam Damai berkunjung, sedang dilakukan proses renovasi kapel dan kamar penginapan tamu. Kini kapel menjadi lebih luas, terutama untuk bangku para tamu lebih banyak sehingga bisa menampung banyak umat yang datang.

Kamar penginapan bagi tamu yang ingin bermalam pun diperbanyak. “Rencananya 40 kamar lagi,” ungkap Fr Agustinus, bagian receptionis. Pengembangan ini dilakukan supaya dapat melayani umat yang datang secara lebih baik, imbuhnya.

Masih menurut Fr Agus, pertapaan terbuka untuk siapa saja, apapun agamanya. Pernah ada tamu dari umat Kristen, Islam, juga Hindu. Rawaseneng juga menerima tamu rombongan, asal tak lebih dari 20 orang. Namun, sebelumnya sebaik menghubungi dulu bagian receptionis, untuk menentukan ada tidaknya tempat.

Bagi yang berminat silahkan hubungi>>Jogjatouring.com
Read More...

Wisata Alam Gunung Sindoro Dan Sumbing

GUNUNG SINDORO DAN SUMBING 


Sindoro dan Sumbing merupakan dua Gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m dari permukaan laut (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl).
Jika dipetakan, Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danTimur laut Wonosobo. Masyarakat dikedua daerah itu menyebut Sindoro-Sumbing sebagai Gunung kembar. Keduanya menyimpan potensi wisata yang sangat besar, meskipun belum semuanya bisa dikelola secara maksimal.
Selain panorama alam nan indah, dengan udara sejuk dan segar, daerah-daerah dilereng Sumbing-Sindoro potensial dikembangkan sebagai kawasan agro wisata, terutama perkebunan kelengkeng, tembakau, vanila, dan kopi. Kondisi alamnya hampir sama dengan kawasan Gunung Mas, puncak, Bogor.
Gunung yang dipenuhi legenda tentang kesetiaan pasangan dan epos kepahlawanan itu sudah tidak asing lagi bagi para pendaki. Banyak kelompok pecinta alam yang mendaki puncak Sumbing dan Sindoro, terutama pada hari-hari tertentu yang sudah menjadi tradisi.
Dengan berbagai kelebihannya, dinas perhubungan dan pariwisata kabupaten Temanggung berusaha terus menggali potensi-potensi wisata, sambil membenahi sarana-prasarana pendukung dikawasan ini.
Sektor pariwisata, terutama yang berbasis wisata Gunung, bisa dijadikan salah satu primadona unggulan dalam membangun ekonomi kerakyatan di daerah ini. Dinas perhubungan dan Pariwisata berniat mengembangkan kawasan Sindoro dan Sumbing sebagai kawasan wisata terpadu. Terutama dilembah antara Sindoro-Sumbing, dan bagian puncak. Misal dengan menyediakan fasilitas kereta gantung yang menghubungkan kedua gunung itu.
Salah satu kawasan yang diapit lembah Sindoro-Sumbing adalah Kledung, yang dilewati pengguna jalan di jalur Parakan-Wonosobo. Banyak pengguna jalan yang beristirahat di tempat ini, sekedar melihat keindahan panorama alam disekelilingnya yang bisa menyegarkan tubuh dan pikiran. Banyak hal yang bisa dijumpai dilembah gunung itu. Selain keindahan alam, lembah Sindoro-Sumbing juga menawarkan kehangatan dan senyum ramah penduduknya. Terlebih lagi tatkala melihat aktivitas mereka saat musim tambakau tiba.
Panorama alam yang indah dan udara sejuk-segar kini menjadi barang langka diperkotaan, itu sebabnya, mereka sering memanfaatkan hari libur ke objek wisata alam sebagaimana banyak tersedia dikabupaten Temanggung.
Letaknya yang dekat dengan Dataran Tinggi Dieng membuat wisata pendakian Gunung Sumbing dan SIndoro bisa dipromosikan lebih dasyat lagi, misalnya dengan mengundang sebagian wisatawan yang datang ke Dieng untuk berkunjung pulang keTemanggung. Pemerintah kabupaten dan masyarakat Temanggung pun siap memanfaatkan peluang emas ini, demi kesejahteraan masyarakat.

WISATA PENDAKIAN

Salah satu kegiatan yang sudah berjalan dikawasan Gunung ini adalah wisata pegunungan. Pendakian Sindoro-Sumbing biasanya dimulai dari kledung, yang terletak diantara kedua Gunung. Ditempat ini, para pendaki juga bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam.
Jalur pendakian yang menantang, ritual setiap malam 1 sura (1 muharam) dan malem selikuran (21 Ramadhan), hamparan perkebunan teh, aneka ladang sayur, deretan pohon pinus, dan jalur berliku-liku dilembah kedua gunung itu membuat banyak orang ingin mengunjungi tempat tersebut

GUNUNG SUMBING
Perjalanan wisata ke Gunung Sumbing akan melewati desa wisata Tegalrejo yang juga dekat dengan pemancingan Vale Kambang dan prasasti Gondosuli. Tanah sekitar gunung sangat subur, sehingga hampir seluruh daerah yang landai sampai ketinggian 2.000 m dpl dijadikan areal perkebunan rakyat seperti tembakau dan sayuran.
Pendakian gunung sumbing bisa dilakukan kapan saja. Tetapi puncak keramaian terjadi pada malem selikuran. Ribuan pendaki, yang dipandu para pecinta alam yang berpengalaman dari sumbing Hiking Club (SHC) Temanggung, serta dipantau para petugas terpadu diposko-posko terdekat, mengawali ritualnya dari desa pager gunung, kecamatan Bulu.
Untuk pendakian diluar tradisi malem selikuran, perjalanan bisa dilakukan tanpa harus dipandu petugas. Para pendaki umumnya start dari desa/kecamatan kledung (arah barat laut), atau kampung butuh dan selogowok dikecamatan tlogo mulyo (timur laut).
Bahkan, gunung sumbing juga bisa didaki dari kawasan diluar kabupaten Temanggung. Yaitu arah barat laut dari kampung garung (1.543 m dpl) di desa Butuh, kecamatan Kalijajar (Wonosobo), arah tenggara dari Kalegan (Kabupaten Magelang), dan arah Barat daya dari sapurun (Wonosobo).
Apabila cuaca bagus, pendakian ke puncak menempuh waktu sekitar lima jam. Sebagian dari mereka berziarah kemakam Ki Ageng Makukuhan di Puncak Sumbing. Ki Ageng Makukuhan diyakini sebagai orang pertama yang singgah di Kedu dan memperkenalkan tanaman tembakau.
Ada beberapa pos yang harus dilalui dari base camp hingga kepuncak, yaitu pos I (1.750 m dpl), pos II (2.000 m dpl),pos bayangan (2.500 m dpl), dan bagian puncak (2.850-3.340 m dpl).

GUNUNG SUMBING
Nama            : Gunung Sumbing
Nama Kawah    : Kawah Sumbing
Lokasi            : Desa Pager Gunung, Kecamatan Tjepit, Kabupaten Temanggung
Ketinggian         : 3. 340 m dpl
Wilayah        : Kabupaten Temanggung, Magelang, Wonosobo dan Purworejo.
Kota Terdekat    : Temanggung (Timur laut), Parakan (Utara), Wonosobo (Barat), dan Magelang (Tenggara).
Tipe Gunung        : Gunung Api strato tipe B 
Pos Pengamatan    : Desa Genting Sari, Parakan-Temanggung pada Ketinggian 950 m dpl.

Dipos I (hutan rapat) terdapat shelter dan lahan bivak. Sedangkan pos II (Wilayah Terbuka) didominasi padang rumput dan ilalang. Udara dipuncak cukup panas, angin kencang, dan cuaca cerah, dengan suhu dibawah 12 derajat Celciuse. Puncak terdiri atas batu-batuan, lapangan berpasir, kawah, dan belerang.

GUNUNG SINDORO
Setiap malam 1 sura, ribuan pecinta alam melakukan pendakian Sindoro. Gunung berketinggian 3.151 m itu juga memiliki beberapa keindahan alam, misalnya Telaga Ajaib dan bunga Abadi edelwis di puncak gunung. Para pendaki juga bisa melihat panorama terbit dan tenggelamnya matahari.
Sebagaimana Sumbing, Sindoro cocok untuk melakukan kegiatan wisata alam dan petualangan. Pendakian dilakukan melalui Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Selain panorama alam yang indah, pendaki bisa melihat para aktivitas petani di kebun.

GUNUNG SINDORO
Nama            : Gunung Sindoro
Nama Kawah    : Kawah Sindoro
Lokasi            : Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung
Ketinggian         : 3.155 m dpl 
Wilayah        : Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.
Kota Terdekat    : Temanggung (Tenggara), Parakan (Timur), Wonosobo (Barat).
Tipe Gunung        : Gunung Api strato tipe B

PUNCAK WONOTIRTO
Di Lereng Gunung Sumbing, di sebuah desa di Kecamatan Bulu, ada kawasan wisata yang cukup digemari, yaitu Puncak Wonotirto. Sepanjang jalan menuju lokasi, wisatawan bisa memandang hutan pinus dari kejauhan dan hamparan tanaman tembakau. Para penggemar wisata pegunungan tentu sangat menyukai suasana seperti ini.
Dari kawasan puncak, kita bisa memandang lepas ke berbagai penjuru. Termasuk pada ujung Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Hal itu dimungkinkan karena Puncak Wonotirto berada di ketinggian 1.900-2.000 m dpl.
Untuk menuju lokasi lereng, wisatawan dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Tetapi sekitar 3 km sebelum puncak, perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menanami 16.000 ha lahan kritis dikawasan ini, dengan aneka komoditas pertanian.

MISTERI POHON WALITIS DI HUTAN RASAMALA

Pohon walitis di kawasan huitan Rasamala merupakan pohon terbesar di lereng Sumbing dan Sindoro. Hutan ini terletak di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Tinggi pohon mencapai 30 meter, dengan lingkar batang 7,5 meter. Untuk memeluk batangnya saja diperlukan enam orang dewasa yang saling tautan sambil merentangkan kedua tangannya.
Menurut masyarakat sekitar, pohon ini berasal dari tongkat salah seorang pengikut wali, yaitu Ki Ageng Makukuhan yang ditancapkan di tanah. Kawasan Walitis memiliki pemandangan alam yang indah dan udara pegunungan yang segar dan alami.
Di Kawasan ini juga tumbuh rumpun tumbuhan bernama Rasamala. Karena itulah, kawasan tersebut dikenal sebagai hutan Rasamala. Keistimewaan tanaman dan hutan ini adalah tidak mempan oleh api.
Ketika terjadi kebakaran hutan di sebagian kawasan lereng Sumbing dan Sindoro beberapa waktu lalu, hutan Rasamala sama sekali tidak terjamah  api.
Untuk menjangkau rumpun pepohonan Rasamala yang luasnya mencapai 1,5 hektar, para wisatawan harus mendaki melalui jalan setapak. Jarak pendakian ini sekitar 1,5 km dari pohon walitis.
Read More...

Wisata Jumprit

JUMPRIT

SEJARAH DAN LEGENDA

Dulu keberadaan Umbul Jumprit hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja. Tetapi sejak awal 1980-an, jumlah pengunjung terus meningkat, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit. Pada tanggal 18 Januari 1987, Pemerintah Kanupaten Temanggung menentapkan Jumprit sebagai Kawasan Wanawisata. Setahun kemudian, Kawasan itu diresmikan Gubernur Jawa Tengah (saat itu HM Ismail).
Namun Jumprit sudah disebutkan dalam serat Centini, terutama dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit.
Dia meninggalkan kerajaan, agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas. Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung.
Beberapa tokoh masyarakat meyakini, Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Namun hal ini masih memerlukan kajian mendalam, terutama dari aspek kesejarahan.
Yang pasti ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan KI Jumprit. Makamnya pun berada tak jauh dari Umbul Jumprit. Dua lokasi inilah yang kerap dikunjungi peziarah, terutama komunitas tertentu yang terbiasa melakukan tirakat.
Sebagai ahli nujum, Ki Jumprit pernah meramal suatu saat nanti Temanggung akan menjadi daerah makmur. Sebagian ramalannya terbukti benar. Petani di lereng Sumbing dan Sindoro relative hidup berkecukupan melalui tanaman tembakau. Komoditas ini mulai popular sejak awal tahun 1970-an.
Tingkat pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat di Temanggung pun termasuk kelompok apan atas di Jawa Tengah, terutama jika dibandingkan dengan Kabupaten lainnya. Meskipun komoditas tembakau tidak lagi secemerlang dulu, kesejahteraan masyarakat Temanggung masih di atas rata-rata masyarakat Jawa Tengah.

EKSOTISME WANAWISATA JUMPRIT


Wanawisata Jumprit merupakan salah salah satu obyek wisata yang eksotis di Kabupaten Temanggung. Tempat ini buka sekadar menawarkan wanawisata (wisata hutan) saja, tetapi juga menghadirkan objek wisata alam pegunungan yang indah.
Awal keramaian obyek wisata ini terjadi sejak awal 1980-an, ketika banyak peziarah yang melakukan wisata spiritual di Makam Ki Jumprit di dekat Umbul Jumprit yang letaknya bersebelahan. Mereka bersemedi di sekitar makam, kemudian diakhiri mandi kungkum di mata air yang tak pernah kering.
Kawasan ini berada di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut (dpl) dan berada di lereng Gunung Sindoro tempatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Jaraknya hanya sekitar 26 km dari barat laut kota Temanggung.
Kawasan Jumprit berada di jalur strategis, yaitu jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng, serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, Maupun Yogyakarta. Perjalanan juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari ibu kota Kecamatan Ngadirejo. Lebih baik lagi menggunakan kendaraan pribadi. Jalan menuju lokasi sudah diaspal, sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Apalagi dalam perjalanan menuju Jumprit, wisatawan juga bisa menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran.
Jika ingin menginap dikawasan ini juga tersedia wisma Perhutani atau bisa juga mendirikan tenda di bumi perkemahan.
Wisatawan bisa menikmati udara segar dan indahnya pemandangan saat matahari terbit. Karena berada di lereng Sindoro, hawa ditempat ini cukup dingin. Airnya juga dingin, jernih dan menyegarkan. Wisatawan yang bermalam dianjurkan membawa jaket.
Jika datang pada siang hari pun, pengunjung masih bisa merasakan sisa-sisa kesejukan saat memasuki kawasan hutan. Banyaknya belantara pepohonan dan letaknya yang berada di lereng Sindoro membuat hawa panas sepertinya enggan menyapa tempat tersebut.
Wisatawan juga bisa bersau dengan sekawanan burung di alam bebas, yang akan selalu menyambut dengan ocehan yang saling bersahutan. Atau bertemu sekawanan kera liar (sekitar 25-30 ekor) di lokasi wanawisata. Konon populasi kera ini tidak pernah bertambah atau berkurang.

Maps Wisata Jumprit

 


Pada sebuah kawasan yang agak mendatar, di antara rerimbunan pohon, terlihat bangunan menyerupai candi. Langgam arsitekturnya mirip dengan bangunan peninggalan Majapahit di Mojokerto (Jawa Timur).
Bangunan yang telah berumur ratusan tahun itu menjadi gerbang dari sebuah tempat yang dikeramatkan. Tetapi ia bukanlah gerbang utama yang sudah dilalui sebelum tiba di bangunan mirip candi tersebut.
Di balik bangunan itulah terdapat Umbul Jumprit. Air dari umbul ini juga dimanfaatkan penduduk sekitar untuk keperluan sehari-hari, termasuk mengairi sawah dan kebun. Keberadaan umbul di antara belantara hutan juga menghadirkan panorama alam yang sungguh indah. Benar-benar menghibur hati ketika berada di antaranya.
Mata air ini ridak pernah kering, meski saat kemarau panjang. Airnya sangat dingin (walau pada siang hari) serta sangat jernih, karena berasal dari sumber di pegunungan. Air inilah yang juga “mengisi” sungai Progo.
Banyak peziarah yang bermeditasi dan mandi kungkum di sini. Puncak keramaian perziarah biasanya terjadi pada dua hari keramat “Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon”. Apalagi jika waktu sudah meninggalkan pukul 24.00.
Seusai kungkum, mereka membuang pakaian dalam sebagai symbol membuang sial, sekaligus berharap rezeki baru bakal datang.
Malam 1 Suro juga sangat ramai, didukung atraksi wisata di SendangSidukun, yaitu tradisi Suran Traji dengan aneka ritual menebar Jimat Pengantin Lurah Traji. Upacara ini sudah dilakukan ratusan tahun lalu, yaitu berupa kirab lurah.
JUmprit juga menjadi tempat yang disucikan umat Budha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul tersebut.
Biasanya pengambilan air suci dilakukan tiga hari sebelum prayaan waisak. Berbagai tradisi yang masih  lestari ini bisa dijadikan salah satu modal pendukung wisata Jumprit. Air Jumprit dipercaya sebagian orang bisa membuat awet muda, enteng rezeki, dekat jodoh dan sarana membuanag sial.
Di dekat mata air terdapat maka Ki Jumprit, sosok ahli di Kerajaan Majapahit, yang selalu ramai dikunjungi peziarah untuk keperluan meditasi dan mandi kungkum.

POTENSI ARUNG JERAM

Pemerintah Kabupaten Temanggung  berencana mengembangkan kawasan wisata Jumprit, dan sudah membuat proposal pengembanganya, di mana kawasan ini dibagi menjadi empat zona pada areal seluas 80 ha.
Zona I dirancang untuk area parkir, panggung terbukam danau buatanm serta pemandian (tempat kungkum). Zona II untuk arena pacuan kuda, tempat parker, pasar buah/sayur, dan kios cendera mata. Sedangkan buki perkemahan dan hutan wisata berada di Zona II. Zona IV untuk hotel, wisma, kolam renang dan restoran.
Zonaisasi  ini membuka peluang bagi calon investor untuk ikut serta mengembangkan potensi wisata di kawasan Jumprit. Sebab kawasan ini memang menjanjika. Di luar item-item yang terangkum dalam zonaisasi itu , masih ada beberapa alternative lain yang bisa ditawarkan Disbudparpora (Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga) Kabupaten Temanggung.
Misalnya potensi agrowisata dan wisata arung jeram. Kalau Magelang dan Kulonprogo bisa menciptakan wisata arum jeram di Kali Progo, mengapa Temanggung yang juga memiliki sungai itu  tidak melakukan hal serupa? Bahkan, Air jernih yang mengalir deras di Kalo Progo berasal dari Umbul Jumprit.
Arum Jeram kini menjadi tren Kawula muda di berbagai kota di Indonesia. Tak heran jika wisata dengan minat khusus ini berkembang pesat pula di Wonosobo, Banjarnegara dan Banyumas dengan memanfaatkan Sungai Serayu.
Saya sekali jika para pemilik kapital tak melirik potensi besar di Jumprit. Pengembangannya dapat dimulai dari jembatan Kali Progo di Kranggan. Artinya calon penikmat arung jeram bisa start dari sana. Lokasi ini dekat dengan jalan raya, sehingga tidak sulit bagi pengelola untuk menggotong perahu karet.
Tempat ini juga lapang dan datar, dengan arus sungai yang sedang dalam keadaan normal. Panorama alamnya juga indah.
JIka dibangun sarana prasarana baru, kawasan Jumprit bisa menjadi obyek wisata andalan di Jawa Tengah. Diperkirakan mampu menarik minat wisatawan yang bekunjung ke Candi Borobudur (Kabupaten Magelang) serta Dataran Tinggi Dieng (Wonosobo/Banjarnegara) karena Jumprit berada di Jalur wisata strategis tersebut.
Read More...

Wisata Curug Lawe

 Curug Lawe


Disebut dengan Curug Lawe karena jatuhnya air terjun ini mengesankan untaian benang “lawe” yang sangat halus dan berwarna putih. Kata Lawe itu sendiri dalam bahasa Jawa berarti benang-benang halus.
   
Lokasi

Terletak di Dusun Muncar Lor, Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah.

Peta dan Koordinat GPS:  7°9'22"S   110°9'25"E  7° 9' 15.61" S  110° 9' 25.10" E

Aksesbilitas

Barjarak 26 kilo arah utara Kota Temanggung atau 1 jam perjalanan lewat jalur Parakan-Ngadorejo. Kondisi jalan menuju kesana sudah beraspal hingga desa.  Untuk menuju curug ini, kendaraan harus diparkir dan dititipkan di halaman rumah penduduk karena belum ada tempat parkir, selanjutnya berjalan menyusuri jalan setapak menuju lokasi.

Wisata Lain

Didekat Curug Lawe juga ada mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk obat sakit kulit. Obyek ini merupakan obyek wisata alam karena memiliki panorama alam yang memikat.

Pada musim tertentu disekitar obyek air terjun ini juga ada tanaman buah alam (lokal) yang dikenal dengan nama buah 'Cendul'  bisa dipetik secara gratis sebagai pelepas dahaga.
Read More...

Wisata Waterpark Pikatan Temanggung

Indowisata123 - Obyek Wisata Waterpark Pikatan Temanggung, merupakan tempat wisata di Temanggung yang merupakan satunya wisata kebanggan Masyarakat Temanggung.

Pikatan telah dikenal oleh masyarakat diluar Kabupaten Temanggung memiliki daya tarik tersendiri karena selain Sumber airnya yang begitu besar dan menyimpan legenda, juga karena terdapat fasilitas kolam renang berstandart Nasional yang sering digunakan untuk ajang lomba renang tingkat Regional dan Nasional.  Saat sekarang ini obyek wisata kolam renang Pikatan yang terletak di Desa Mudal Kecamatan Temanggung semakin terlihat merupakan embrio wisata yang reprensentatif dan dapat diandalkan karena telah dikembangkan menjadi wahana permainan air “PIKATAN WATER PARK” namun demikian masih diperlukan pengembangan guna penyempurnaan. Oleh karena itu dari komoditas yang sudah ada tersebut masih diperlukan investasi untuk :


Nama  : Obyek Wisata Pikatan Water Park.
Potensi Pengembangan : Fly Fox

Pembangunan Wahana permainan air (water slide, flaying fox, kolam renang prestasi, penggung hiburan, dan kawasan budidaya ikan air tawar.

Lokasi : Desa Mudal kec. Temanggung Kab. Temanggung.
Areal : Lahan milik Pemkab Temanggung 4,5 ha.

Potensi Pendukung :

  • Lahan untuk budidaya ikan.
  • Lahan milik Pemda 4,5 Ha, namun untuk pengembangan sebagian tanah milik masyarakat dapat dibebaskan.
  • Rumah makan ikan bakar.
  • Telah dibangun water boom namun masih perlu penyempurnaan.
  • Lokasi cocok untuk area outbound.
  • Penerangan dari PLN.
  • Suhu udara 20  25 0C .
  • Ketinggian 500  1500 dpl.
  • Jalan Kabupaten.
  • Pengelolaan didukung masyarakat

Perkiraan Investasi : Rp. 21.000.000.000,-
Read More...