Pertapaan Rawaseneng Temanggung

Pertapaan Rawaseneng

Pertapaan Rawaseneng yang terletak 14 km sebelah utara Temanggung ini, merupakan bentuk hidup kerahiban yang menjadi salah satu kekayaan Gereja Katolik, khususnya Keuskupan Agung Semarang. Para rahib di sini adalah anggota Ordo Cisterciensis Strictioris Observantiae (OCSO) atau sering disebut Ordo Trappist. Ordo ini menjalani kehidupan monastik (kerahiban) menurut Peraturan St Benediktus. Cikal bakal ordo dimulai dari desa kecil Citeaux, di Perancis, pada akhir abad ke-11.

Pertapaan Rawaseneng sendiri berdiri pada tanggal 1 April 1953. Rahib awali berasal dari komunitas OCSO Koningshoeven, Tilburg, Nederland. Ada empat rahib pionir (3 imam dan 1 bruder) yang memulai pertapaan ini.

Kini ada 34 rahib menghuni di sini, tujuh di antaranya adalah rahib imam. Pemimpin pertapaan ini disebut Abbas (Latin) artinya ‘bapak’ atau sering disebut Romo Abbas. Saat ini Romo Abbas dipangku oleh Aloysius  Gonzaga Rudiyat OCSO.

Hidup harian para rahib dilakoni dengan doa dan karya; ora et labora. Rutinitas pertapaan dimulai pukul 03.15 dini hari dengan bangun pagi. Tepat pukul 03.30 lonceng gereja berdentang pertanda Ibadat Bacaan dimulai. Selanjutnya meditasi, lectio divina, ibadat pagi, dan perayaan ekaristi, hingga pukul tujuh pagi.


Ada jeda satu jam untuk sarapan dan keperluan pribadi. Pukul delapan kumpul kembali di kapel untuk ibadat siang I. Antara pukul 08.30-11.30 merupakan saat untuk labora atau kerja. Ada yang di kebun, peternakan, kamar tamu, toko rohani, dapur, dll. masing-masing sesuai dengan tugasnya.

Tengah hari, pukul 12, kekasih-kekasih Kristus ini mengidungkan kembali pujian kepada Allah dalam ibadat siang II. Menyusul kemudian makan siang dan istirahat. Namun, pukul 14.30 suara rahib ini sudah menggema lagi sampai ke langit-langit rawaseneng, dalam ibadat sore. Ada waktu satu setengah jam ke depan untuk bekerja dan keperluan pribadi hingga pukul 16.30.

Lectio Divina atau bacaan rohani satu jam dan meditasi setengah jam dilakukan para rahib sampai saat makan malam pukul 18.20. Setelah itu bersama menutup aktivitas harian ini dengan ibadat penutup pada pukul 19.45. Selanjutnya, waktu pribadi dan beristirahat.

Semua aktivitas dilakukan dalam keheningan atau silensium. Tanpa kata, supaya hati tetap terarah kepada Sang Pencipta.

Jubah para rahib ini begitu khas. Jubah dasar berwarna putih. Di sebelah depan dan belakang dikenakan kain berwarna hitam yang melintang di bahu, mirip kasula, yang disebut Skapulir. Skapulir ini lambang perlindungan Bunda Maria, dan menjadi ciri busana kerahiban. Skapulir berasal dari kata Latin ‘Scapula’, yang artinya ‘bahu’. Di bagian leher skapulir terdapat kain tutup kepala yang digunakan saat meditasi.

Produksi

Para rahib Rawaseneng memiliki beberapa karya yang khas, yaitu peternakan sapi, perkebunan susu, dan pengolahan keju. Saat ini setidaknya ada 150 ekor sapi yang dimiliki, 70 diantaranya untuk produksi susu. Sapi-sapi ini berasal dari Belanda dan Australia. Ada sekitar 700 liter susu dihasilkan dari peternakan ini. Pemerasan susu dilakukan pada pagi dan sore hari. Sebagian produksi susu dikirim ke para pelanggan, seperti rumah sakit, biara, atau keluarga-keluarga.

Masing-masing memiliki nama, ada yang Lidia, Elisabet, Fransiska, dll. Pemberian nama ini dilakukan untuk mengetahui silsilah keturunannya. Supaya tidak terjadi kawin campur sedarah atau seketurunan; hal ini untuk menghindari kualitas sapi yang dihasilkan.

Sebagian lagi diproduksi untuk pengolahan keju. Keju Rawaseneng terkenal berkualitas. Kualitasnya ditentukan oleh waktu pengolahan yang cukup panjang, yaitu sekitar 3-4 bulan. Keju ini menjadi bahan olahan campuran roti-roti rawaseneng, seperti kastengel.

Dari 178 hektar luas pertapaan, 100 hektar diantaranya untuk lahan perkebunan. Lahan ini untuk tanaman kopi, cengkeh, dan palawija lainnya. Lahan sisanya untuk hutan lindung.

Kunjungan

Saat Salam Damai berkunjung, sedang dilakukan proses renovasi kapel dan kamar penginapan tamu. Kini kapel menjadi lebih luas, terutama untuk bangku para tamu lebih banyak sehingga bisa menampung banyak umat yang datang.

Kamar penginapan bagi tamu yang ingin bermalam pun diperbanyak. “Rencananya 40 kamar lagi,” ungkap Fr Agustinus, bagian receptionis. Pengembangan ini dilakukan supaya dapat melayani umat yang datang secara lebih baik, imbuhnya.

Masih menurut Fr Agus, pertapaan terbuka untuk siapa saja, apapun agamanya. Pernah ada tamu dari umat Kristen, Islam, juga Hindu. Rawaseneng juga menerima tamu rombongan, asal tak lebih dari 20 orang. Namun, sebelumnya sebaik menghubungi dulu bagian receptionis, untuk menentukan ada tidaknya tempat.

Bagi yang berminat silahkan hubungi>>Jogjatouring.com
Read More...

Wisata Sejarah Candi Borobudur

Wisata Sejarah Candi Borobudur

Siapa tidak kenal dengan Candi Borobudur. Candi ini sudah terkenal bahkan jauh sebelum Pulau Komodo masuk dalam daftar keajaiban dunia baru. Borobudur memang sudah tersohor ke seluruh dunia terutama karena pernah masuk dalam salah satu dari 7 keajaiban dunia. Borobudur merupakan sebuah Candi Buddha yang berlokasi di Magelang, Jawa Tengah. Objek wisata ini terleetak sekitar 100 km dari Semarang, 86 km dari Surakarta, dan 40 km dari Yogyakarta. Candi ini memiliki bentuk khas yaitu berbentuk stupa. Melihat dari historisnya, Borobudur memang sudah ada sejak lama, sekitar 800an Masehi. 

Bangunan ini dibangun pada masa pemerintahan Syailendra, yaitu oleh Raja Samaratungga. Bangunan Borobudur memiliki 6 teras utama yang berbentuk bujur sangkar. Dinding-dinding di bangunan ini dihiasi oleh sekitar 2.672 relief dan 504 arca Buddha. Anda bisa melihat stupa terbesar tepat di tengah-tengah bangunan ini.

Objek Wisata Candi Borobudur
Candi Borobudur memang memiliki bentuk yang sangat khas. Arsitek dari bangunan ini adalah Gunadharma. Beberapa bukti sejarah menunjukkan bahwa orang yang pertama kali memberikan nama Candi ini adalah Gubernur Jendral Britania Raya. Namun tidak ada bukti yang benar-benar jelas tentang siapa sebenarnya yang memberi nama Borobudur. Di dalam Kitab NagaraKertagama tertulis bahwa Candi Borobudur merupakan tempat meditasi orang Buddha. 

Dari filosofi namanya, Borobudur memiliki arti "biara di perbukitan", dibagi menjadi 2 kata yaitu bara yang berarti candi dan beduhur yang berari perbukitan. Dulunya candi Borobudur sempat lama tidak dipergunakan hingga tertutup oleh semak belukar dan abu dari letusan gunung berapi. Hingga pada tahun 1814 Sir Thomas Stamford Raffles mendengar bahwa ada sebuah situs purbakala di daerah Magelang. Ia kemudian menuju lokasi dan bersama pengikutnya menebas semua pepohonan yang menutupi dan sejak saat itu pemugaran dimulai. Candi ini terus mengalami pemugaran hingga era penjajahan Belanda.

Candi Borobudur merupakan tempat yang tepat bagi anda yang ingin mengajak putra-putri anda untuk semakin mengenal sejarah negerinya. Wisata sejarah seperti ini merupakan metode pembelajaran yang efektif. Dengan berkunjung kesini, mereka bisa melihat langsung kemegahan Candi Borobudur, tidak hanya melihatnya dari buku anda mendengar dari cerita orang lain. Karena Borobudur cukup mudah diakses, banyak agen perjalanan yang menyediakan wisata ke Jawa Tengah memasukkan Borobudur dalam destinasi wisata mereka. Bahkan agen perjalanan di Yogyakarta juga banyak yang memilih objek wisata ini karena memang jaraknya yang tidak terlalu jauh.


Bangunan utama Borobudur letaknya cukup jauh dari pintu masuk, yaitu sekitar 2 km. Jarak ini harus anda tempuh dengan berjalan kaki. Bagi anda yang belum pernah masuk kesana, sebelum masuk anda akan diminta untuk memakai kain batik untuk diikatkan ke pinggang. Peraturan ini sepertinya baru berlaku sejak tahun 2010 setelah Borobudur terkena dampak letusan Gunung Merapi. Setelah memasuki bangunan Candi, anda akan langsung bisa melihat 2672 relief yang bernilai historis dan seni tinggi. Relief ini memiliki panjang kurang lebih 6 km. Di sepanjang relief anda akan melihat cerita sejarah yang meliputi lalita wistara, jataka karmawibangga, awadana, dan gandawyuda. Seperti relief pada umumnya, di relief ini terpampang gambaran kehidupan Buddha dan serta peradaban masyarakat pada masa itu.

Di dalam Candi Borobudur, anda tidak hanya bisa melihat banyak stupa yang berdiri megah. Anda juga bisa berkunjung ke Musium Samudra Raksa. Museum ini menggambarkan perjalanan Kapal Samudra Raksa yang berlayar melintasi Jawa hingga ke Afrika. Tidak heran karena nenek moyang kita memang terkenal sebagai pelaut yang ulung. Ada satu tips penting sebelum memasuki bangunan Borobudur. Karena harus berjalan jauh, anda harus mempersiapkan stamina dengan baik. Selain itu jangan lupa kosongkan perut sebelum naik karena jika di atas anda sakit perut, anda tidak bisa menemukan toilet. Harus turun lagi untuk menemukan toilet.
Read More...

Candi Gedong Songo

Candi Gedong Songo

eksotisme relief candi gedong songo

Candi Gedong Songo berada di lereng Gunung Ungaran, tepatnya di Candi Gedongsongo, Dusun Darum, Desa Candi, Kecamatan Bandungan, Kabupaten Semarang dan kompleks candi ini dibangun pada abad ke-9 Masehi. Gedong Songo berasal dari bahasa Jawa, “Gedong” berarti rumah atau bangunan, “Songo” berarti sembilan. Jadi Arti kata Gedongsongo adalah sembilan (kelompok) bangunan.


eksotisme gunung ungarancandi gedong iperbukitan candi gedong songocandi gedong v
naik kudakabut sedang turunpancaran uap belerangeksotisme relief candi gedong songo






















Lokasi 9 candi yang tersebar di lereng Gunung Ungaran ini memiliki pemandangan alam yang indah. Di sekitar lokasi juga terdapat hutan pinus yang tertata rapi serta mata air yang mengandung belerang. Kabut tipis turun dari atas gunung sering muncul mengakibatkan mata tidak dapat memandang Candi Gedongsongo dari kejauhan. Candi ini memiliki persamaan dengan kompleks Candi Dieng di Wonosobo. Candi ini terletak pada ketinggian sekitar 1.200 m di atas permukaan laut sehingga suhu udara disini cukup dingin.

Untuk menuju ke Candi Gedong I, kita harus berjalan sejauh 200 meter melalui jalan setapak yang naik. Anda bisa memanfaatkan jasa transportasi kuda untuk berwisata mengelilingi obyek wisata Candi Gedongsongo. Tahun 1740, Loten menemukan kompleks Candi Gedong Songo. Tahun 1804, Raffles mencatat kompleks tersebut dengan nama Gedong Pitoe karena hanya ditemukan tujuh kelompok bangunan. Van Braam membuat publikasi pada tahun 1925, Friederich dan Hoopermans membuat tulisan tentang Gedong Songo pada tahun 1865. Tahun 1908 Van Stein Callenfels melakukan penelitian terhadapt kompleks candi dan Knebel melakukan inventarisasi pada tahun 1910-1911.
Disela-sela antara Candi Gedong III dengan Gedong IV terdapat sebuah kepunden gunung sebagai sumber air panas dengan kandungan belerang cukup tinggi. Para wisatawan dapat mandi dan menghangatkan tubuh disebuah pemandian yang dibangun di dekat kepunden tersebut. Bau belerangnya cukup kuat dan kepulan asapnya lumayan tebal ketika mendekati sumber air panas tersebut. Karena keindahannya Candi Gedong Songo ini sering menjadi tempat yang indah untuk foto foto Pre Wedding.

Tiket Masuk: Dewasa/5 tahun ke atas: Rp 5.000/orang dan Rp 25.000/orang untuk Wisatawan Asing.

Tarif Jasa Naik Kuda Candi Gedong Songo

- Wisata Desa Rp 25.000 (Wisman Rp 35.000)
- Ke Air Panas Rp 40.000 (Wisman Rp 60.000)
- Ke Candi II Rp 30.000 (Wisman Rp 40.000)
- Paket candi Songo Rp 50.000 (Wisman Rp 70.000)

Untuk menuju Candi Gedong Songo diperlukan perjalanan sekitar 40 menit dari Kota Ambarawa dengan jalanan yang naik, dan kemiringannya sangat tajam. Lokasi candi juga dapat ditempuh dalam waktu 10 menit dari obyek wisata Bandungan. Berikut daftar jarak tempuh menuju candi ini.

- Ungaran – Gedong Songo : 25 km
- Ambarawa – Gedong Songo : 15 km
- Semarang – Gedong Songo : 45 km


GPS Waypoint: 7°12’39.72”S (Latitude) 110°20?32.88” E (Longitude)
Google Map Refference (-7.211033,110.342467)
Read More...

Waterpark Owabong Purbalingga

Waterpark Owabong


Owabong Waterpark saat ini merupakan obyek wisata paling banyak dikunjungi dan menjadi Kabupaten Purbalingga. Owabong sendiri merupakan singkatan dari Obyek Wisata Bojongsari, seperti namanya, obyek wisata air ini terletak di desa Bojongsari kecamatan Bojongsari. Owabong Waterpark mengandalkan aneka wahana air untuk berbagai kelompok usia, baik untuk anak maupun dewasa.




Beberapa wahana di Owabong:

  • Kolam Renang Olympic
  • Waterboom Spiral dan Torpedo
  • Kolam Ember Tumpah
  • Kolam Pesta Air untuk anak
  • Kolam Air Hangat
  • Terapi ikan
  • Sirkuit Gokart
  • Flying Fox
  • Anjungan Wisata Dirgantara (AWD)
  • Bioskop 4 Dimensi
  • Jet Coaster


Beberapa fasilitas pendukung:

  • Mushola
  • Resto dan Food Court
  • Kamar ganti dan kamar bilas
  • Toilet bersih dan nyaman
  • Tribune
  • Tempat parkir luas
Read More...

Wiata Alam Batu Raden Purwokerto


Wisata Batu Raden


Baturaden terletak di sebelah selatan Gunung Slamet memiliki udara sejuk dan cenderung bertambah dingin di malam hari. Selain memiliki panorama alam yang cantik, Baturaden juga memiliki banyak legenda rakyat, salah satunya cerita lutung kasarung yang terkenal.
Dari Baturaden, Anda dapat melihat pemandangan Kota Purwokerto, Pulau Nusa Kambangan, juga beberapa pantai indah di daerah Cilacap. Baturaden sendiri memiliki banyak objek wisata yang menarik dikunjungi seperti Taman Bitanin yang memiliki beragam tanaman dan bunga langka, di antaranya bunga havana, daun dewa, antarium lipstick, palem paris, dan widoro laut yang tak hanya dipamerkan, juga dijual sebagai souvenir.
Kemudian juga ada Curug Gede, sebuah air terjun cantik di Desa Ketenger yang terletak 3 km dari pusat Baturaden. Tidak jauh dari situ juga ada sebuah pemandian air panas, Pancuran Pitu yang bersuhu sekira 60 hingga 70 derajat Celsius.
Selain pemandian air panas, Baturaden juga memiliki pemandian yang dipercaya menyembuhkan berbagai penyakit, yaitu Pancuran Telu. Baturaden pun memiliki kolam sumber air murni, Telaga Sunyi.
Baturaden ternyata turut dibuka untuk lokasi perkemahan. Bagi pengunjung yang ingin bermalam di Baturaden, Anda dapat mendirikan tenda di Wana Wisata, sebuah hutan hijau yang berjarak 2 km dari Baturaden dan sangat pas untuk berkemah bersama keluarga.
Wisata keluarga di Baturaden akan bertambah menyenangkan apabila berkunjung ke Taman Kaloka Widya Mandala, sebuah kebun binatang dan museum yang menyimpan kerangka-kerangka fauna khas Indonesia.

A. Selayang Pandang
pancuran pitu Batu Raaden

Nama Batu Raden berasal dari dua kata (bahasa Jawa), yaitu Batur (bukit, tanah, teman, pembantu) dan Raden (bangsawan). Bila digabung, kata “Batu Raden” dapat bermakna:  tanah yang datar atau tanah yang indah. Ada dua versi sejarah Batu Raden, yaitu versi Syekh Maulana Maghribi dan versi Kadipaten Kutaliman. Menurut versi yang pertama, Syekh Maulana Maghribi, Pangeran Rum yang berasal dari Turki dan beragama Islam, pernah merasa penasaran dengan cahaya terang misterius yang menjulang ke angkasa dan bersinar di bagian timur. Sang Pangeran kemudian mencari asal cahaya tersebut. Singkat cerita, setelah melakukan pendakian hingga ke puncak sebuah gunung, Sang Pangeran melihat ada seorang pertapa Buddha yang bersandar pada sebuah pohon jambu yang memancarkan sinar cahaya ke atas. Lokasi ini kemudian dikenal dengan sebutan Batu Raden. Sedangkan menurut versi kedua, cerita Batu Raden terkait dengan kisah cinta antara anak perempuan Adipati Kutaliman dengan pembantunya yang menjaga kuda.

Luas tanah keseluruhan kawasan obyek wisata Batu Raden adalah 16,5 Ha, dengan luas lahan investasi 4 Ha. Status tanah adalah HPL (hak pengelolaan) Pemerintah Daerah (Pemda).

B. Keistimewaan

Keistimewaan Batu Raden terletak pada aneka ragam jenis obyek wisata yang ditawarkan. Di samping wisata utama Batu Raden, di kawasan ini juga terdapat banyak lokasi wisata lain yang juga menarik untuk dikunjungi, di antaranya adalah:

 Taman Botani. Taman ini menyediakan aneka ragam tanaman hias, tanaman bongsai, dan tanaman langka, seperti  Tanaman Havana, Daun Dewa, Brimulia, Keladi Tikus, Antarium Lipstik, Palem Paris, Lidah Gajah, dan Widoro Laut. Harga tanaman-tanaman ini terbilang cukup murah dan dapat dijangkau oleh pengunjung yang ingin menjadikannya sebagai cinderamata.
 Curug Gede. Obyek wisata ini terletak di Desa Wisata Ketenger, jaraknya kurang lebih 3 km dari Batu Raden. Di sana terdapat sebuah air terjun yang indah.
 Pancuran Pitu, yang berjarak 2,5 km dari Batu Raden. Pancuran ini terletak 2,5 km dari Batu Raden. Pancuran ini merupakan sumber air panas bumi dengan temperatur 60°-70° C yang langsung mengalir dari kaki Gunung Slamet melalui tujuh pancuran.
  Pancuran Telu. Pancuran ini diresmikan pada tanggal 18 Januari 1987. Pancuran ini mengalirkan air panas bersulfur dengan suhu 40‘C yang konon dapat menyembuhkan penyakit kulit dan tulang.
Wana Wisata. Obyek wisata ini terletak 2 km dari Batu Raden. Wana Wisata menyajikan pemandangan hutan yang hijau dan indah. Tempat ini sangat cocok untuk kegiatan berkemah dan jungle tracking.
 Telaga Sunyi. Telaga ini terletak di sebelah timur, yang berjarak sekitar 3,5 km dari Batu Raden. Telaga ini terbilang indah, airnya jernih dan dingin.
  Taman Kaloka Widya Mandala, yang merupakan kebun binatang sekaligus sebagai wisata pendidikan. Di taman ini terdapat sejumlah binatang yang didatangkan, baik dari dalam negeri maupun luar negeri, seperti kambing kaki tiga, gajah, beruk, sapi kaki lima, ular sanca, monyet, landak, buaya Irian, orangutan, dan rusa. Di komplek wisata ini juga terdapat Museum Satwa Langka yang berisi binatang seperti beruang madu, harimau Sumatera, dan macan dahan.
Di samping obyek wisata yang cukup banyak, kawasan Batu Raden ini juga diwarnai dengan fasilitas seni dan budaya, yaitu:

 Grebeg Syura atau Sedekah Bumi. Upacara ini dilakukan pada tanggal 9 Bulan Syura. Tujuannya adalah sebagai tolak bala, yaitu dengan melakukan kegiatan-kegiatan berupa ruwat bumi dan selamatan di makam-makam leluhur.
  Kenthongan, merupakan kesenian musik khas Banyumas. Alat utama kesenian ini adalah kenthong yang berupa potongan bambu yang diberi lubang di sisinya secara memanjang. Untuk memainkannya perlu dikentong.
  Calung dan lengger. Calung merupakan alat musik yang juga terbuat dari potongan bambu, diletakkan secara melintang, dan dimainkan dengan cara dipukul. Sedangkan lengger adalah tarian yang dimainkan dua orang perempuan atau lebih dan diiringi dengan calung.
  Pakaian adat Banyumas. Pakaian adat Banyumas ada dua macam, yaitu pakaian untuk kalangan wong cilik (seperti pakaian ancingan, bebed wala, pinjungan, iketan, dan nempean) dan pakaian untuk kalangan bangsawan (beskap untuk pria dan nyamping untuk perempuan).
  Ebeg (kuda lumping). Ebeg merupakan tarian tradisional Banyumas dengan ciri khasnya menggunakan kuda kepang. Dalam pertunjukan biasanya diiringi dengan gamelan yang bernama bendhe.
  Pameran tanaman hias, seperti havana, daun dewa, dan palem paris.
 Sadranan. Ritual ini berupa bersih-bersih makam yang dilanjutkan dengan acara kenduren. Tujuannya adalah untuk mengenang arwah para leluhur.
C. Lokasi

Batu Raden terletak di sebelah selatan kaki Gunung Slamet pada ketinggian sekitar 640 meter di atas permukaan laut. Lokasi obyek wisata ini berada di sebelah utara dan berjarak sekitar 14 km dari Kota Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Provinsi Jawa Tengah, Indonesia.

D. Akses

Untuk menuju lokasi, pengunjung bisa menggunakan kendaraan pribadi maupun kendaraan umum. Dari Kota Purwokerto perjalanan bisa ditempuh dalam waktu 15 menit. Pengunjung bisa menggunakan angkutan umum dari terminal Kebondalem Purwokerto menuju lokasi wisata Batu Raden.  
 Akomodasi dan Fasilitas Lain

Di lokawisata Baturaden terdapat sejumlah fasilitas yang dapat dinikmati, yaitu:

 Kolam renang (Rp. 1.500,00 per orang)
Kolam luncur (Rp. 1.500,00 per orang)
Pijat lulur belerang dan mandi air panas (Rp. 15.000,00 per orang)  
Sepeda air (Rp. 1.500,00 per orang)  
Mandi air panas VIP (Rp. 3.000,00, maksimal 15 menit)
Mandi Air Panas Kelas I (Rp. 2.000,00, maksimal 15 menit)
Mogen atau mobil genjot (Rp. 1.500,00, maksimal 15 menit)
Komedi putar (Rp. 1.500,00, maksimal 15 menit)
Kereta mini (Rp. 2.000,00 per orang)
Ada banyak akomodasi dan fasilitas yang tersedia di obyek wisata Batu Raden ini, yaitu sebagai berikut:

Di pusat wisata Batu Raden terdapat banyak villa, wisma Batu Raden, dan hotel.
Di sebelah timur kawasan wisata Batu Raden juga terdapat banyak villa dan hotel.
Di sebelah Barat kawasan wisata Batu Raden terdapat:
Banyak hotel.
Biro perjalanan wisata. Batu Raden tidak mempunyai biro perjalanan wisata sendiri. Mereka melakukan kerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Banyumas dengan memfasilitasi sejumlah biro atau agen perjalanan wisata.
Sejumlah restoran.
Gedung Kertiwana, yang terletak di sebelah kawasan Bumi Perkemahan Batu Raden. Gedung yang didesain secara khusus menyatu dengan alam ini mampu menampung 500 orang.
Palawi SPA Batu Raden, sebagai fasilitas untuk SPA dan Aromateraphy.
Rumah penginapan (homestay) yang terdapat di desa wisata Ketenger dan disediakan untuk umum.
Beberapa bungalo atau rumah yang disewakan sebagai tempat peristirahatan.
Beberapa jasa pramuwisata, yang lebih dikhususkan untuk wisatawan mancanegara.
Kelab malam.
Panti pijat dan mandi lulur belerang. Fasilitas ini merupakan wisata kesehatan dengan memanfaatkan sumber air panas yang mengandung kadar belerang yang cukup tinggi.
Terminal Batu Raden. Terminal ini berfungsi sebagai tempat kedatangan dan pemberangkatan kendaraan ke Taman Wisata Batu Raden, seperti bis umum, bis pariwisata, dan kendaraan pribadi.
Kios-kios cinderamata, yang menjajakan sejumlah barang, seperti pakaian, sepatu, sandal, jaket, mainan anak-anak, dan asesoris-asesoris lainnya.
Read More...

Wisata Alam Telaga Warna Dieng Wonosobo

TELAGA WARNA DIENG

Dataran tinggi Dieng memiliki sejuta keindahan yang memukau. Kawasan ini selain dihiasi hijaunya pepohonan dan candi bercorak Hindu yang indah, juga berdiam sebuah bingkisan alam nan indah bernama Telaga Warna Dieng. Berlokasi di Kecamatan Kejajar Wonosobo, telaga ini merupakan salah satu destinasi wisata andalan Kabupaten Wonosobo, Jawa Tengah. Untuk mencapainya dari Wonosobo Anda dapat berkendara sekira 25 km.


Harmonisasi alam dengan udara yang sejuk dan bersih membuat suasana Telaga Warna Dieng begitu memikat. Anda juga akan merasakan suasana mistis yang hening disempurnakan oleh kabut putih dan pepohonan yang melingkupinya. Tidaklah lengkap menyambangi Dieng tanpa melihat langsung keindahan Telaga Warna Dieng. Selain itu dari sini Anda dapat melanjutkan mengunjungi Telaga Pengilon, Goa Sumur, Goa Semar, Goa Jaran, dan Kawah Sikendang ini.

Dinamakan Telaga Warna karena fenomena alam yang terjadi di tempat ini yaitu berupa pergantian warna air dari telaga tersebut. Terkadang berwarna hijau dan kuning atau berwarna warni seperti pelangi. Fenomena ini terjadi karena di dalam air tersebut terdapat kandungan sulfur cukup tinggi sehingga saat sinar Matahari mengenainya maka warna air telaga nampak berwarna warni. Anda bisa menyaksikan di tengah telaga terdapat letupan air mendidih seperti yang ada di Kawah Putih (Jawa Barat).

Keberadaan Telaga Warna Dieng juga sangat berguna bagi masyarakat sekitar. Mereka menggunakannya sebagai sumber irigasi untuk mengairi tanaman kentang yang menjadi komoditas utama di kawasan ini.
Kegiatan


Anda dapat menyusuri tepian telaga ini dan ada juga balkon kecil untuk duduk bersantai sambil menikmati udara dan keanekaragaman fenomena alam yang mengelilinginya. Lokasi paling tepat untuk menikmati keindahan telaga ini selain berada tepat di hadapannya adalah Anda juga bisa mendaki ke puncak bukit yang memagari telaga. Kondisi menuju bukit ini cukup sempit dan licin dan hanya bisa dilalui oleh satu orang saja. Di sini, di antara rimbunnya pepohonan, Anda bisa menyaksikan keindahan telaga berwarna-warni ungu cantik, bergradasi dengan warna hijau di tengah, dan hijau pucat di pusat telaga.

Dieng Plateau Theater menyediakan informasi lengkap mengenai kejadian alam di sekitar Dieng, jadi sempatkan untuk menyambanginya.

Akomodasi

Banyak wisatawan menginap di Wonosobo menyempatkan diri berjalan-jalan seharian di kawasan Dieng. Akan tetapi, apabila Anda lebih memilih untuk bermalam di Dieng maka terdapat homestay dengan beragam fasilitas dan harga. Anda juga dapat tinggal di rumah penduduk yang dapat disewa dengan harga relatif murah.

Transportasi

Telaga Warna adalah tujuan wisata di kawasan wisata Dieng, Kecamatan Kejajar Wonosobo, Provinsi Jawa Tengah. Cara termudah untuk menuju tempat ini dengan mengendarai mobil berjarak sekira 3 jam dari Yogyakarta atau 25 km dari Wonosobo.

Apabila Anda menggunakan transportasi umum maka dapat menggunakan bus dari Yogyakarta ke Magelang lalu ke Wonosobo. Dari Wonosobo, gunakan minibus menuju Dieng. Kawasan Dieng dapat dijangkau dengan berjalan kaki dari Desa Dieng. Jika Anda mengendarai mobil maka Anda tersedia area parkir.

Untuk menuju Telaga Warna Dieng, Anda bisa menggunakan jasa ojek yang tersedia di sekitar Dieng. Akan tetapi, jika Anda merasa berjiwa petualang maka bisa berjalan kaki sambil menikmati indahnya pemandangan Dieng yang memesona.

Tidak jauh dari bukit itu terdapat telaga cantik lainnya yatiu Telaga Pengilon. Telaga ini dapat digunakan untuk bercermin karena airnya yang jernih. Penduduk setempat menyebutkan bahwa danau ini bisa mengetahui isi hati manusia. Anda mungkin penasaran, mengapa tidak mencoba datang dan lihat rupa wajah Anda di air telaga ini.


Di sekitar Telaga Warna Dieng tedapat beberapa gua yang juga patut untuk dikunjungi seperti Gua Semar Pertapaan Mandalasari Begawan Sampurna Jati. Di depan gua ini terdapat arca wanita dengan membawa kendi. Gua ini juga memiliki kolam kecil yang airnya dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit dan membuat kulit jadi lebih cantik. Ada juga Gua Sumur Eyang Kumalasari, dan Gua Jaran Resi Kendaliseto. Selain itu, ada pula Batu Tulis Eyang Purbo Waseso.  Gua-gua di sekitar kawasan ini sering dijadikan sebagai tempat meditasi.


Read More...

Wisata Alam Telaga Menjer Wonosobo

TELAGA MENJER WONOSOBO



Wonosobo memang terkenal dengan keindahan alamnya, contohnya adalah Dieng. Siapakah yang tidak mengenal Dieng? Namun daerah Wonosobo terdapat satu telaga yang sering kali terlewati oleh para wisatawan, yaitu Telaga Menjer. Jika dari Wonosobo, tempat ini berada sebelum kita memasuki Kawasan Dieng atau berada di samping PLTA Garung di kaki Gunung Pakuwaja.
Telaga Menjer, Wonosobo

Telaga Menjer termasuk ke dalam telaga/danau vulkanis dan merupakan telaga terbesar di Kabupaten Wonosobo, tempat ini terletak 12 km dari Kota Wonosobo. Saat penulis kesana, Telaga Menjer digunakan sebagai PLTA, tempat budidaya ikan nila, serta sebagai objek wisata. Pemandangan di Telaga Menjer masih sangat asri dan cantik, udara yang sejuk, serta pemandangan pedesaan yang masih tradisional sehingga tempat ini cocok untuk wisatawan yang mencari ketenangan dari hiruk pikuk kota. Derasnya suara aliran sungai dari PLTA berpadu dengan suara-suara alam sekitar menambah cantiknya suasana di Telaga Menjer. Namun sayang, jumlah pengunjung wisatawan yang datang sangat sedikit karena ketidaktahuan para traveler yang mengetahui tempat ini. Selain itu prasarana di Telaga Menjer kurang memadai untuk mendukung para wisatawan dalam menikmati keindahan Telaga Menjer. Telaga Menjer memiliki potensi yang cukup besar menjadi tempat wisata alternatif, selain Dieng, jika pemerintah daerah serius untuk mengerjakannya.


Read More...

Wisata Sejarah Candi Dieng Wonosobo

WISATA CANDI DIENG


Wisata candi dieng wonosobo merupakan daerah pesona alam yang sangat unik, sejuk karena candi dieng wonosobo berada di kisaran 2000m dpl, sangat aman nyaman dan direkomendasikan.

ini merupakan wisata yang sangat cocok bagi anda yang sedang jenuh dan butuh refreshing penuh. penyegaran yang berkala, baik untuk anda yang memang sedang dalam keadaan depresi.

ya sebenarnya tidak juga seperti itu, lebih baik jika anda berkunjung ke candi dieng wonosobo dalam kondisi yang sedang penuh layaknya batere power full. pada intinya saya hanya sekali mengunjungi kawasan dataran tinggi dieng tapi seperti post-post saya sebelumnya jika anda cukup tertarik.

maka saya telah memperlebar bahasa dan penjelasan tentang kawasan dieng yang sangat indah dan ya memang kawasan dieng beserta telaga warna dieng, candi dieng, dan kawah-kawah lainnya yang masih dalam satu lingkup dengan kawasan dataran tinggi dieng merupakan salah satu ikon wisata visit jateng yang tentunya sangat menarik dan sangat direkomendasikan.

Candi Dieng Wonosobo


Begitu banyak candi yang tersebar di nusantara khususnya pulau jawa adalah saksi sejarah yang tidak terbantahkan tentang peradaban umat hindu di nusantara, kita bisa menyaksikan beberapa candi yang terdengar sangat bersahabat, namun pada post ini saya hanya akan membahas candi dieng wonosobo karena sesuai dengan judul post.

Kompleks candi dieng wonosobo merupakan perkomplekan candi yang cukup luas karena di dalamnya terdapat beberapa candi meskipun ukuran tubuh masing-masing candi dieng wonosobo kecil.


namun tetap memiliki daya tarik dan eksotis yang dapat dirasakan, hal yang paling gila menurut saya adalah bagaimana caranya candi dieng terdapat di sebuah wilayah yang memiliki ketinggian di atas 2000m dpl.

mengenai candi dieng wonosobo mungkin kata yang keluar! ini sangat konyol dan bagaimana caranya? namun realita candi dieng wonosobo memang seperti itu dataran tinggi berbeda dengan gunung.


jika gunung mungkin para pendaki hanya membutuhkan beberapa hari atau seminggu pp karena hanya mengerucut pada puncak dan tidak melebar.

berbeda dengan dataran tinggi yang tentunya untuk mencapai titik-titik puncak semua akses badan gunung melebar dan semakin menyusahkan jika ingin mencapai titik-titik tujuan.

CANDI DIENG WONOSOBO

Dalam kompleks candi dieng wonosobo yang cukup banyak terdapat nama-nama seperti candi:
  • Candi Arjuna
  • Candi pewara
  • Candi Gatotkaca
  • Candi Bima
  • Candi Semar
  • Candi Puntadewa
  • Candi Dwarawati
  • Candi Sembadra
  • Candi Srikandi

Read More...

Wisata Alam Gunung Sindoro Dan Sumbing

GUNUNG SINDORO DAN SUMBING 


Sindoro dan Sumbing merupakan dua Gunung yang letaknya berdekatan, serta memiliki bentuk dan tinggi yang hampir sama. Tinggi Gunung Sumbing sekitar 3.340 m dari permukaan laut (dpl), sedikit lebih tinggi daripada Sindoro (3.155 m dpl).
Jika dipetakan, Sumbing berada disebelah barat daya kota Temanggung dan sebelah Timur kota Wonosobo. Sedangkan Sindoro disebelah barat laut Temanggung danTimur laut Wonosobo. Masyarakat dikedua daerah itu menyebut Sindoro-Sumbing sebagai Gunung kembar. Keduanya menyimpan potensi wisata yang sangat besar, meskipun belum semuanya bisa dikelola secara maksimal.
Selain panorama alam nan indah, dengan udara sejuk dan segar, daerah-daerah dilereng Sumbing-Sindoro potensial dikembangkan sebagai kawasan agro wisata, terutama perkebunan kelengkeng, tembakau, vanila, dan kopi. Kondisi alamnya hampir sama dengan kawasan Gunung Mas, puncak, Bogor.
Gunung yang dipenuhi legenda tentang kesetiaan pasangan dan epos kepahlawanan itu sudah tidak asing lagi bagi para pendaki. Banyak kelompok pecinta alam yang mendaki puncak Sumbing dan Sindoro, terutama pada hari-hari tertentu yang sudah menjadi tradisi.
Dengan berbagai kelebihannya, dinas perhubungan dan pariwisata kabupaten Temanggung berusaha terus menggali potensi-potensi wisata, sambil membenahi sarana-prasarana pendukung dikawasan ini.
Sektor pariwisata, terutama yang berbasis wisata Gunung, bisa dijadikan salah satu primadona unggulan dalam membangun ekonomi kerakyatan di daerah ini. Dinas perhubungan dan Pariwisata berniat mengembangkan kawasan Sindoro dan Sumbing sebagai kawasan wisata terpadu. Terutama dilembah antara Sindoro-Sumbing, dan bagian puncak. Misal dengan menyediakan fasilitas kereta gantung yang menghubungkan kedua gunung itu.
Salah satu kawasan yang diapit lembah Sindoro-Sumbing adalah Kledung, yang dilewati pengguna jalan di jalur Parakan-Wonosobo. Banyak pengguna jalan yang beristirahat di tempat ini, sekedar melihat keindahan panorama alam disekelilingnya yang bisa menyegarkan tubuh dan pikiran. Banyak hal yang bisa dijumpai dilembah gunung itu. Selain keindahan alam, lembah Sindoro-Sumbing juga menawarkan kehangatan dan senyum ramah penduduknya. Terlebih lagi tatkala melihat aktivitas mereka saat musim tambakau tiba.
Panorama alam yang indah dan udara sejuk-segar kini menjadi barang langka diperkotaan, itu sebabnya, mereka sering memanfaatkan hari libur ke objek wisata alam sebagaimana banyak tersedia dikabupaten Temanggung.
Letaknya yang dekat dengan Dataran Tinggi Dieng membuat wisata pendakian Gunung Sumbing dan SIndoro bisa dipromosikan lebih dasyat lagi, misalnya dengan mengundang sebagian wisatawan yang datang ke Dieng untuk berkunjung pulang keTemanggung. Pemerintah kabupaten dan masyarakat Temanggung pun siap memanfaatkan peluang emas ini, demi kesejahteraan masyarakat.

WISATA PENDAKIAN

Salah satu kegiatan yang sudah berjalan dikawasan Gunung ini adalah wisata pegunungan. Pendakian Sindoro-Sumbing biasanya dimulai dari kledung, yang terletak diantara kedua Gunung. Ditempat ini, para pendaki juga bisa menyaksikan matahari terbit dan terbenam.
Jalur pendakian yang menantang, ritual setiap malam 1 sura (1 muharam) dan malem selikuran (21 Ramadhan), hamparan perkebunan teh, aneka ladang sayur, deretan pohon pinus, dan jalur berliku-liku dilembah kedua gunung itu membuat banyak orang ingin mengunjungi tempat tersebut

GUNUNG SUMBING
Perjalanan wisata ke Gunung Sumbing akan melewati desa wisata Tegalrejo yang juga dekat dengan pemancingan Vale Kambang dan prasasti Gondosuli. Tanah sekitar gunung sangat subur, sehingga hampir seluruh daerah yang landai sampai ketinggian 2.000 m dpl dijadikan areal perkebunan rakyat seperti tembakau dan sayuran.
Pendakian gunung sumbing bisa dilakukan kapan saja. Tetapi puncak keramaian terjadi pada malem selikuran. Ribuan pendaki, yang dipandu para pecinta alam yang berpengalaman dari sumbing Hiking Club (SHC) Temanggung, serta dipantau para petugas terpadu diposko-posko terdekat, mengawali ritualnya dari desa pager gunung, kecamatan Bulu.
Untuk pendakian diluar tradisi malem selikuran, perjalanan bisa dilakukan tanpa harus dipandu petugas. Para pendaki umumnya start dari desa/kecamatan kledung (arah barat laut), atau kampung butuh dan selogowok dikecamatan tlogo mulyo (timur laut).
Bahkan, gunung sumbing juga bisa didaki dari kawasan diluar kabupaten Temanggung. Yaitu arah barat laut dari kampung garung (1.543 m dpl) di desa Butuh, kecamatan Kalijajar (Wonosobo), arah tenggara dari Kalegan (Kabupaten Magelang), dan arah Barat daya dari sapurun (Wonosobo).
Apabila cuaca bagus, pendakian ke puncak menempuh waktu sekitar lima jam. Sebagian dari mereka berziarah kemakam Ki Ageng Makukuhan di Puncak Sumbing. Ki Ageng Makukuhan diyakini sebagai orang pertama yang singgah di Kedu dan memperkenalkan tanaman tembakau.
Ada beberapa pos yang harus dilalui dari base camp hingga kepuncak, yaitu pos I (1.750 m dpl), pos II (2.000 m dpl),pos bayangan (2.500 m dpl), dan bagian puncak (2.850-3.340 m dpl).

GUNUNG SUMBING
Nama            : Gunung Sumbing
Nama Kawah    : Kawah Sumbing
Lokasi            : Desa Pager Gunung, Kecamatan Tjepit, Kabupaten Temanggung
Ketinggian         : 3. 340 m dpl
Wilayah        : Kabupaten Temanggung, Magelang, Wonosobo dan Purworejo.
Kota Terdekat    : Temanggung (Timur laut), Parakan (Utara), Wonosobo (Barat), dan Magelang (Tenggara).
Tipe Gunung        : Gunung Api strato tipe B 
Pos Pengamatan    : Desa Genting Sari, Parakan-Temanggung pada Ketinggian 950 m dpl.

Dipos I (hutan rapat) terdapat shelter dan lahan bivak. Sedangkan pos II (Wilayah Terbuka) didominasi padang rumput dan ilalang. Udara dipuncak cukup panas, angin kencang, dan cuaca cerah, dengan suhu dibawah 12 derajat Celciuse. Puncak terdiri atas batu-batuan, lapangan berpasir, kawah, dan belerang.

GUNUNG SINDORO
Setiap malam 1 sura, ribuan pecinta alam melakukan pendakian Sindoro. Gunung berketinggian 3.151 m itu juga memiliki beberapa keindahan alam, misalnya Telaga Ajaib dan bunga Abadi edelwis di puncak gunung. Para pendaki juga bisa melihat panorama terbit dan tenggelamnya matahari.
Sebagaimana Sumbing, Sindoro cocok untuk melakukan kegiatan wisata alam dan petualangan. Pendakian dilakukan melalui Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Temanggung. Selain panorama alam yang indah, pendaki bisa melihat para aktivitas petani di kebun.

GUNUNG SINDORO
Nama            : Gunung Sindoro
Nama Kawah    : Kawah Sindoro
Lokasi            : Desa Katekan, Kecamatan Ngadirejo, Kabupaten Temanggung
Ketinggian         : 3.155 m dpl 
Wilayah        : Kabupaten Temanggung, dan Kabupaten Wonosobo.
Kota Terdekat    : Temanggung (Tenggara), Parakan (Timur), Wonosobo (Barat).
Tipe Gunung        : Gunung Api strato tipe B

PUNCAK WONOTIRTO
Di Lereng Gunung Sumbing, di sebuah desa di Kecamatan Bulu, ada kawasan wisata yang cukup digemari, yaitu Puncak Wonotirto. Sepanjang jalan menuju lokasi, wisatawan bisa memandang hutan pinus dari kejauhan dan hamparan tanaman tembakau. Para penggemar wisata pegunungan tentu sangat menyukai suasana seperti ini.
Dari kawasan puncak, kita bisa memandang lepas ke berbagai penjuru. Termasuk pada ujung Gunung Sumbing dan Gunung Sindoro. Hal itu dimungkinkan karena Puncak Wonotirto berada di ketinggian 1.900-2.000 m dpl.
Untuk menuju lokasi lereng, wisatawan dapat menggunakan sepeda motor atau mobil. Tetapi sekitar 3 km sebelum puncak, perjalanan harus dilanjutkan dengan jalan kaki. Pemerintah Kabupaten Temanggung sudah menanami 16.000 ha lahan kritis dikawasan ini, dengan aneka komoditas pertanian.

MISTERI POHON WALITIS DI HUTAN RASAMALA

Pohon walitis di kawasan huitan Rasamala merupakan pohon terbesar di lereng Sumbing dan Sindoro. Hutan ini terletak di Desa Jetis, Kecamatan Selopampang, Tinggi pohon mencapai 30 meter, dengan lingkar batang 7,5 meter. Untuk memeluk batangnya saja diperlukan enam orang dewasa yang saling tautan sambil merentangkan kedua tangannya.
Menurut masyarakat sekitar, pohon ini berasal dari tongkat salah seorang pengikut wali, yaitu Ki Ageng Makukuhan yang ditancapkan di tanah. Kawasan Walitis memiliki pemandangan alam yang indah dan udara pegunungan yang segar dan alami.
Di Kawasan ini juga tumbuh rumpun tumbuhan bernama Rasamala. Karena itulah, kawasan tersebut dikenal sebagai hutan Rasamala. Keistimewaan tanaman dan hutan ini adalah tidak mempan oleh api.
Ketika terjadi kebakaran hutan di sebagian kawasan lereng Sumbing dan Sindoro beberapa waktu lalu, hutan Rasamala sama sekali tidak terjamah  api.
Untuk menjangkau rumpun pepohonan Rasamala yang luasnya mencapai 1,5 hektar, para wisatawan harus mendaki melalui jalan setapak. Jarak pendakian ini sekitar 1,5 km dari pohon walitis.
Read More...

Wisata Kali anget Wonosobo.

 Pemandian Kali Anget Wonosobo



Siapa yang tidak ingin mandi air hangat tiap hari. selain tidak merasa kedinginan saat mandi juga ada beberapa manfaat jika kita mandi dengan menggunakan air hangat, salah satunya seperti menghilangkan/mengurangi gatal-gatal  menghilangkan capek dan pegal-pegal sehabis bekerja.

Di daerah Wonosobo ada sumber mata air panas (atau hangat) yang muncul dengan debit air yang cukup besar, mengalir tidak tentu arah dan tidak dikelola dengan baik oleh pemerintah (wah mubadzir). Akan tetapi menurut sumber sejak dibangunnya waduk wadaslintang tahun 1987, agar dapat menopang kepariwisataan waduk maka sejak tahu 1999 dan 2004 mata iar itu dibenahi dan dikelola dengan baik agar bermanfaat untuk pariwisata Wonosobo.



Berjarak 3 kilometer dari pusat kota itulah kawasan wisata Kalinaget Wonosobo. dengan kolam renangnya wisata Kalinaget menawarkan wisata pemandian air dingin maupun pemandian di kolam renang air hangat. selain itu ada ruang khusus (VIP katanya) untuk satu orang dengan bak khusus untuk mandi. pengunjung diberi waktu kurang lebih satu jam untuk berada diruang tersebut.

selain itu taman rekreasi kalianget juga menyediakan sarana olahraga seperti lapangan tenis dan lapangan sepak bola, taman bermain dan kolam pemancingan agar pengunjung bisa rilek dan santai (rilek=santai :P). setelah capek-capek berolahraga kita bisa langsung berendam air hangat yang ada disana, maknyus…..

Ngomong-ngomong dari manakah sumber mata air panas itu berasal? saya yang asli orang Wonosobo belum pernah tau asal muasal sumber air panas tersebut. menurut saya mungkin sumber itu dari dataran tinggi dieng (kawah sikidang) yang muncul di Desa kalianget
Read More...

Wisata Jumprit

JUMPRIT

SEJARAH DAN LEGENDA

Dulu keberadaan Umbul Jumprit hanya diketahui oleh kalangan tertentu saja. Tetapi sejak awal 1980-an, jumlah pengunjung terus meningkat, terutama mereka yang ingin berziarah ke makam Ki Jumprit dan mandi kungkum di Umbul Jumprit. Pada tanggal 18 Januari 1987, Pemerintah Kanupaten Temanggung menentapkan Jumprit sebagai Kawasan Wanawisata. Setahun kemudian, Kawasan itu diresmikan Gubernur Jawa Tengah (saat itu HM Ismail).
Namun Jumprit sudah disebutkan dalam serat Centini, terutama dikaitkan dengan legenda Ki Jumprit yang merupakan ahli nujum di Kerajaan Majapahit. Ki Jumprit bukan hanya dikenal sakti mandraguna, tetapi juga salah seorang putra Prabu Brawijaya, Raja Majapahit.
Dia meninggalkan kerajaan, agar bisa mengamalkan ilmu dan kesaktiannya kepada masyarakat luas. Perjalanan panjangnya berakhir di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo Kabupaten Temanggung.
Beberapa tokoh masyarakat meyakini, Ki Jumprit adalah leluhur dari masyarakat Temanggung yang tersebar di lereng Gunung Sindoro dan Sumbing. Namun hal ini masih memerlukan kajian mendalam, terutama dari aspek kesejarahan.
Yang pasti ada beberapa lokasi yang diyakini sebagai petilasan KI Jumprit. Makamnya pun berada tak jauh dari Umbul Jumprit. Dua lokasi inilah yang kerap dikunjungi peziarah, terutama komunitas tertentu yang terbiasa melakukan tirakat.
Sebagai ahli nujum, Ki Jumprit pernah meramal suatu saat nanti Temanggung akan menjadi daerah makmur. Sebagian ramalannya terbukti benar. Petani di lereng Sumbing dan Sindoro relative hidup berkecukupan melalui tanaman tembakau. Komoditas ini mulai popular sejak awal tahun 1970-an.
Tingkat pendidikan dan derajat kesehatan masyarakat di Temanggung pun termasuk kelompok apan atas di Jawa Tengah, terutama jika dibandingkan dengan Kabupaten lainnya. Meskipun komoditas tembakau tidak lagi secemerlang dulu, kesejahteraan masyarakat Temanggung masih di atas rata-rata masyarakat Jawa Tengah.

EKSOTISME WANAWISATA JUMPRIT


Wanawisata Jumprit merupakan salah salah satu obyek wisata yang eksotis di Kabupaten Temanggung. Tempat ini buka sekadar menawarkan wanawisata (wisata hutan) saja, tetapi juga menghadirkan objek wisata alam pegunungan yang indah.
Awal keramaian obyek wisata ini terjadi sejak awal 1980-an, ketika banyak peziarah yang melakukan wisata spiritual di Makam Ki Jumprit di dekat Umbul Jumprit yang letaknya bersebelahan. Mereka bersemedi di sekitar makam, kemudian diakhiri mandi kungkum di mata air yang tak pernah kering.
Kawasan ini berada di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut (dpl) dan berada di lereng Gunung Sindoro tempatnya di Desa Tegalrejo, Kecamatan Ngadirejo. Jaraknya hanya sekitar 26 km dari barat laut kota Temanggung.
Kawasan Jumprit berada di jalur strategis, yaitu jalur wisata Borobudur-Dieng, Semarang-Bandungan-Dieng, serta dari berbagai arah dengan kemudahan aksesibilitas, baik dari Wonosobo, Kendal, Maupun Yogyakarta. Perjalanan juga bisa ditempuh dengan kendaraan umum dari ibu kota Kecamatan Ngadirejo. Lebih baik lagi menggunakan kendaraan pribadi. Jalan menuju lokasi sudah diaspal, sehingga perjalanan cukup menyenangkan. Apalagi dalam perjalanan menuju Jumprit, wisatawan juga bisa menikmati panorama alam pegunungan yang indah dan agrowisata sayuran.
Jika ingin menginap dikawasan ini juga tersedia wisma Perhutani atau bisa juga mendirikan tenda di bumi perkemahan.
Wisatawan bisa menikmati udara segar dan indahnya pemandangan saat matahari terbit. Karena berada di lereng Sindoro, hawa ditempat ini cukup dingin. Airnya juga dingin, jernih dan menyegarkan. Wisatawan yang bermalam dianjurkan membawa jaket.
Jika datang pada siang hari pun, pengunjung masih bisa merasakan sisa-sisa kesejukan saat memasuki kawasan hutan. Banyaknya belantara pepohonan dan letaknya yang berada di lereng Sindoro membuat hawa panas sepertinya enggan menyapa tempat tersebut.
Wisatawan juga bisa bersau dengan sekawanan burung di alam bebas, yang akan selalu menyambut dengan ocehan yang saling bersahutan. Atau bertemu sekawanan kera liar (sekitar 25-30 ekor) di lokasi wanawisata. Konon populasi kera ini tidak pernah bertambah atau berkurang.

Maps Wisata Jumprit

 


Pada sebuah kawasan yang agak mendatar, di antara rerimbunan pohon, terlihat bangunan menyerupai candi. Langgam arsitekturnya mirip dengan bangunan peninggalan Majapahit di Mojokerto (Jawa Timur).
Bangunan yang telah berumur ratusan tahun itu menjadi gerbang dari sebuah tempat yang dikeramatkan. Tetapi ia bukanlah gerbang utama yang sudah dilalui sebelum tiba di bangunan mirip candi tersebut.
Di balik bangunan itulah terdapat Umbul Jumprit. Air dari umbul ini juga dimanfaatkan penduduk sekitar untuk keperluan sehari-hari, termasuk mengairi sawah dan kebun. Keberadaan umbul di antara belantara hutan juga menghadirkan panorama alam yang sungguh indah. Benar-benar menghibur hati ketika berada di antaranya.
Mata air ini ridak pernah kering, meski saat kemarau panjang. Airnya sangat dingin (walau pada siang hari) serta sangat jernih, karena berasal dari sumber di pegunungan. Air inilah yang juga “mengisi” sungai Progo.
Banyak peziarah yang bermeditasi dan mandi kungkum di sini. Puncak keramaian perziarah biasanya terjadi pada dua hari keramat “Selasa Kliwon dan Jumat Kliwon”. Apalagi jika waktu sudah meninggalkan pukul 24.00.
Seusai kungkum, mereka membuang pakaian dalam sebagai symbol membuang sial, sekaligus berharap rezeki baru bakal datang.
Malam 1 Suro juga sangat ramai, didukung atraksi wisata di SendangSidukun, yaitu tradisi Suran Traji dengan aneka ritual menebar Jimat Pengantin Lurah Traji. Upacara ini sudah dilakukan ratusan tahun lalu, yaitu berupa kirab lurah.
JUmprit juga menjadi tempat yang disucikan umat Budha di Indonesia. Setiap berlangsung upacara Trisuci Waisak di Candi Borobudur, air keberkahan selalu diambil dari umbul tersebut.
Biasanya pengambilan air suci dilakukan tiga hari sebelum prayaan waisak. Berbagai tradisi yang masih  lestari ini bisa dijadikan salah satu modal pendukung wisata Jumprit. Air Jumprit dipercaya sebagian orang bisa membuat awet muda, enteng rezeki, dekat jodoh dan sarana membuanag sial.
Di dekat mata air terdapat maka Ki Jumprit, sosok ahli di Kerajaan Majapahit, yang selalu ramai dikunjungi peziarah untuk keperluan meditasi dan mandi kungkum.

POTENSI ARUNG JERAM

Pemerintah Kabupaten Temanggung  berencana mengembangkan kawasan wisata Jumprit, dan sudah membuat proposal pengembanganya, di mana kawasan ini dibagi menjadi empat zona pada areal seluas 80 ha.
Zona I dirancang untuk area parkir, panggung terbukam danau buatanm serta pemandian (tempat kungkum). Zona II untuk arena pacuan kuda, tempat parker, pasar buah/sayur, dan kios cendera mata. Sedangkan buki perkemahan dan hutan wisata berada di Zona II. Zona IV untuk hotel, wisma, kolam renang dan restoran.
Zonaisasi  ini membuka peluang bagi calon investor untuk ikut serta mengembangkan potensi wisata di kawasan Jumprit. Sebab kawasan ini memang menjanjika. Di luar item-item yang terangkum dalam zonaisasi itu , masih ada beberapa alternative lain yang bisa ditawarkan Disbudparpora (Dinas Budaya, Pariwisata, Pemuda dan Olah Raga) Kabupaten Temanggung.
Misalnya potensi agrowisata dan wisata arung jeram. Kalau Magelang dan Kulonprogo bisa menciptakan wisata arum jeram di Kali Progo, mengapa Temanggung yang juga memiliki sungai itu  tidak melakukan hal serupa? Bahkan, Air jernih yang mengalir deras di Kalo Progo berasal dari Umbul Jumprit.
Arum Jeram kini menjadi tren Kawula muda di berbagai kota di Indonesia. Tak heran jika wisata dengan minat khusus ini berkembang pesat pula di Wonosobo, Banjarnegara dan Banyumas dengan memanfaatkan Sungai Serayu.
Saya sekali jika para pemilik kapital tak melirik potensi besar di Jumprit. Pengembangannya dapat dimulai dari jembatan Kali Progo di Kranggan. Artinya calon penikmat arung jeram bisa start dari sana. Lokasi ini dekat dengan jalan raya, sehingga tidak sulit bagi pengelola untuk menggotong perahu karet.
Tempat ini juga lapang dan datar, dengan arus sungai yang sedang dalam keadaan normal. Panorama alamnya juga indah.
JIka dibangun sarana prasarana baru, kawasan Jumprit bisa menjadi obyek wisata andalan di Jawa Tengah. Diperkirakan mampu menarik minat wisatawan yang bekunjung ke Candi Borobudur (Kabupaten Magelang) serta Dataran Tinggi Dieng (Wonosobo/Banjarnegara) karena Jumprit berada di Jalur wisata strategis tersebut.
Read More...

Wisata Curug Lawe

 Curug Lawe


Disebut dengan Curug Lawe karena jatuhnya air terjun ini mengesankan untaian benang “lawe” yang sangat halus dan berwarna putih. Kata Lawe itu sendiri dalam bahasa Jawa berarti benang-benang halus.
   
Lokasi

Terletak di Dusun Muncar Lor, Desa Muncar, Kecamatan Gemawang, Kabupaten Temanggung, Propinsi Jawa Tengah.

Peta dan Koordinat GPS:  7°9'22"S   110°9'25"E  7° 9' 15.61" S  110° 9' 25.10" E

Aksesbilitas

Barjarak 26 kilo arah utara Kota Temanggung atau 1 jam perjalanan lewat jalur Parakan-Ngadorejo. Kondisi jalan menuju kesana sudah beraspal hingga desa.  Untuk menuju curug ini, kendaraan harus diparkir dan dititipkan di halaman rumah penduduk karena belum ada tempat parkir, selanjutnya berjalan menyusuri jalan setapak menuju lokasi.

Wisata Lain

Didekat Curug Lawe juga ada mata air panas yang bisa dimanfaatkan untuk obat sakit kulit. Obyek ini merupakan obyek wisata alam karena memiliki panorama alam yang memikat.

Pada musim tertentu disekitar obyek air terjun ini juga ada tanaman buah alam (lokal) yang dikenal dengan nama buah 'Cendul'  bisa dipetik secara gratis sebagai pelepas dahaga.
Read More...

Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam


Paket Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam, Paket Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam telah kami rangkai dan kami sesuaikan agar anda memiliki kebebasan waktu dalam menikmati perjalanan tour anda.

HARI 01 KEDATANGAN + PRAMBANAN TOUR – Malioboro (MM) 
Perjalanan anda dimulai dari penjemputan oleh guide di Bandara di Yogyakarta (Guide kami akan menunggu kedatangan anda di Bandara), dilanjutkan dengan mengunjungi Candi Prambanan yang berada di komplek percandian Hindu termegah dan terindah di Indonesia beserta Candi – Candi di sekitarnya seperti Candi Sewu, Plaosan dan Kalasan. Usai mengunjungi Candi Prambanan, Guide Kami akan mengantar anda ke Malioboro lalu ke hotel tempat menginap untuk check in. Makan malam di lokal restaurant selanjutnya anda kami persilahkan beristirahat di hotel.

Hari 02 Candi Borobudur – Kraton Jogjakarta 
Perjalanan dimulai dari Hotel setelah anda makan pagi, kemudian langsung menuju ke Candi Borobudur, setelah selesai di Candi Borobudur perjalanan dilanjutkan ke Kraton Jogjakarta Istana Air Taman Sari lalu kembali lagi ke Hotel untuk istirahat.

Hari 03 Shopping Tour – Transfer Out 
Setelah Makan Pagi kami akan mengantarkan anda untuk Shopping tour bila anda ingin membeli oleh-oleh khas Jogja, dan setelah selesai itu kami akan mengantarkan anda ke Bandara/Stasiun. dan Tour selesai.

Info Selengkapnya : Paket Wisata Jogja 3 Hari 2 Malam
Read More...

Wisata Waterpark Pikatan Temanggung

Indowisata123 - Obyek Wisata Waterpark Pikatan Temanggung, merupakan tempat wisata di Temanggung yang merupakan satunya wisata kebanggan Masyarakat Temanggung.

Pikatan telah dikenal oleh masyarakat diluar Kabupaten Temanggung memiliki daya tarik tersendiri karena selain Sumber airnya yang begitu besar dan menyimpan legenda, juga karena terdapat fasilitas kolam renang berstandart Nasional yang sering digunakan untuk ajang lomba renang tingkat Regional dan Nasional.  Saat sekarang ini obyek wisata kolam renang Pikatan yang terletak di Desa Mudal Kecamatan Temanggung semakin terlihat merupakan embrio wisata yang reprensentatif dan dapat diandalkan karena telah dikembangkan menjadi wahana permainan air “PIKATAN WATER PARK” namun demikian masih diperlukan pengembangan guna penyempurnaan. Oleh karena itu dari komoditas yang sudah ada tersebut masih diperlukan investasi untuk :


Nama  : Obyek Wisata Pikatan Water Park.
Potensi Pengembangan : Fly Fox

Pembangunan Wahana permainan air (water slide, flaying fox, kolam renang prestasi, penggung hiburan, dan kawasan budidaya ikan air tawar.

Lokasi : Desa Mudal kec. Temanggung Kab. Temanggung.
Areal : Lahan milik Pemkab Temanggung 4,5 ha.

Potensi Pendukung :

  • Lahan untuk budidaya ikan.
  • Lahan milik Pemda 4,5 Ha, namun untuk pengembangan sebagian tanah milik masyarakat dapat dibebaskan.
  • Rumah makan ikan bakar.
  • Telah dibangun water boom namun masih perlu penyempurnaan.
  • Lokasi cocok untuk area outbound.
  • Penerangan dari PLN.
  • Suhu udara 20  25 0C .
  • Ketinggian 500  1500 dpl.
  • Jalan Kabupaten.
  • Pengelolaan didukung masyarakat

Perkiraan Investasi : Rp. 21.000.000.000,-
Read More...